Thursday, 22 April 2010

Seri VI : Kelahiran Kresna

Alkisah, terdapat seorang raja di Matura yaitu Raja Kangsa. Ia adalah seorang yang berhati kejam dan tidak memiliki belas kasihan kepada sesama manusia. Suatu hari Raja Kangsa dikunjungi oleh Hyang Narada, Wiku dari Sorgaloka, yang memberitahu bahwa kelak ia akan dibunuh oleh anak Dewaki yang nomor 8. Setelah itu Hyang Narada segera kembali ke sorgaloka.

Dewaki adalah bibi raja Kangsa dan ia adalah isteri dari Wasudewa (Basudewa).

Setelah raja Kangsa menerima pemberitahuan oleh Hyang Narada, timbullah niat yang jahat untuk membunuh anak Dewaki sehingga sabda Hyang Narada tidak terlaksana. Pada waktu itu Dewaki belum memiliki anak.

Beberapa waktu berlalu, Dewaki mulai mengandung. Ketika bayi lahir, dengan segera dibunuh oleh raja Kangsa. Kejadian ini berulang-ulang hingga Dewaki melahirkan anak yang keenam. Saat mengandung bayi yang ketujuh, bayi yang masih di dalam kandungan dipindahkan oleh dewi Nidra (dewi tidur) dengan jalan gaib ke Rohini, istri Wasudewa yang kedua. Setelah sampai waktunya, bayi lahir dengan selamat dan dinamakan Baladewa atau Balarama.

Dewaki mengandung lagi kedelapan kalinya. Wasudewa mendapat akal untuk menyelamatkan bayi yang akan dilahirkan itu. Jika kelak bayi lahir, maka akan digantikan dengan bayi yang lain. Kebetulan ketika itu Yasoda, isteri Nanda seorang gembala, juga sedang bunting. Ketika Dewaki melahirkan, Yasoda pun melahirkan. Dengan segera bayi itu dipertukarkan.

Ketika raja Kangsa mendengar Dewaki melahirkan anak yang kedelapan, segera ia pergi ke rumah Dewaki. Raja Kangsa tidak mengetahui bahwa bayi telah dipertukarkan, sehingga ia membunuh bayi yang sebenarnya adalah anak Yasoda. Sementara itu, anak Dewaki yang kedelapan selamat dan diberi nama Kresna.

Setelah Kresna besar ia memiliki kekuatan gaib. Keberaniannya semakin tersiar ke mana-mana sehingga raja Kangsa mendengar pula. Kresna lalu dipanggil menghadap ke Matura, akan diadu dengan orang yang terkenal kuat dan berani.

Nanda, yang mengasuk Kresna, menjadi bersedih hati. Ia tahu raja Kangsa sangat kejam. Karena itu ia selalu mendoakan Kresna.

Selama di Matura, Kresna disuruh mengerjakan pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh orang biasa. Maksudnya jika Kresna tak sanggup ia akan dihukum seberat-beratnya. Tapi yang terjadi sebaliknya, semua pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah oleh Kresna. Ia disuruh menarik busur yang bahkan tak seorangpun dewa yang sanggup menariknya, mengalahkan gajah, diadu dengan orang-orang kuat.

Melihat kekuatan dan keprawiraan Kresna, raja Kangsa menjadi murka karena merasa kalah kuat dan berani. Kemurkaan itu tidak hanya dilampiaskan kepada Kresna, melainkan kepada seluruh gembala. Maka gembala-gembala itu pun disuruh meninggalkan Matura dengan segera, dan bila tidak maka akan dibunuh.

Kresna pun sangat marah mendengar hal itu. Maka terjadilah perkelahian sengit antara raja Kangsa dengan Kresna. Raja Kangsa pun kalah dan mati. Sabda Hyang Narada terbukti.

Setelah raja Kangsa meninggal, Kresna meninggalkan Matura dan menikah dengan dewi Rukmini, putri raja Bismaka dari negeri Widarba. Perkawinan itu disertai dengan perang besar karena diam-diam Dewi Rukmini dilarikan oleh Kresna. Setelah perang, Kresna tinggal di Dwaraka (Dwarawati) dengan dewi Rukmini dan jadi raja di negeri itu dengan gelar Batara.

Kresna sangat sakti dan bahkan berani berkelahi dengan Dewa. Alkisah suatu saat Hyang Narada memberi bunga Parijata kepada dewi Rukmini. Dewi Setyaboma, permaisuri yang kedua pun mengiri. Kresna menyanggupi untuk mohon bunga tersebut. Hyang Indra tidak mengijinkan dan terjadi perkelahian yang hebat karena masing-masing mengeluarkan kesaktiannya. Sebelum ada yang kalah, datanglah Dewi Aditi, ibu para dewa memisah. Akhirnya Kresna diperkenankan mengambil bunga Parijata sesuka hati.

Demikianlah kisah Kresna.

[+/-] Selengkapnya...

Seri V : Pandu Raja Hastinapura

Keturunan darah kuru kembali berlanjut dengan dibuahinya Dewi Ambika dan Dewi Ambalika oleh Begawan Wyasa karena mandulnya 2 putra turunan Raja Santanu, yaitu Tjitragada dan Witjitawirja yang adalah suami dari Dewi Ambika dan Dewi Ambalika.

Drestaratya, yang dianggap sebagai sulung, merupakan hasil percampuran antara Dewi Ambika dengan Begawan Wyasa akhirnya menikah dengan Dewi Gendari, Puteri Raja Basubala di Negeri Gandara. Walaupun terlahir buta, namun Drestaratya merupakan sosok yang menyenangi kekuatan.

Pandu, yang kedua, beristri dua, yaitu dewi Kunti (dewi Patra) putri Raja Kuntiboja yang merupakan raja di negeri Kuntiwisaya dan dewi Madrim putri Raja Madrapati yang merupakan raja di negeri Madrawisaya. Raja Madrapati ini memiliki 2 orang putra, yaitu Salya (putra sulung) dan dewi Madrim. Pandu sangat gemar berlatih panah. Saat dewasa, Pandulah yang memimpin kerajaan Hastinapura, karena kakaknya Drestaratya buta.

Sementara itu Widura yang gemar bermain anggar menikah dengan dewi Parasari, putera maharaja Dewaka dan memperoleh putera yang dinamakan Winajasampana.

Latar Belakang Dewi Kunti Istri Pandu
Sebelum menikah dengan Pandu, raja Hastinapura, Dewi Kunti telah memiliki seorang putra. Alkisah riwayat kelahiran putra Dewi Kunti adalah ketika pada suatu hari Raja Kuntiboja mendapat kunjungan dari seorang brahmana bernama Druwasa. Druwasa yang singgah di istana meminta dengan sangat supaya pekerjaannya jangan dihalangi atau diganggu oleh siapapun, termasuk oleh baginda.

Baginda berkenan meluluskan permintaan itu dan puteri baginda yang bernama Kunti dititahkan melayani sang Brahmana. Dewi Kunti sebenarnya puteri angkat, karena dia puteri raja Suraraja dari bangsa Jadawa. Jadi masih memiliki darah Wresni. Oleh karena sang dewi sangat baik melayani brahmana itu, maka ia dianugerahi mantra yang dapat mendatangkan salah seorang dewa yang dikehendakinya.

Setelah Druwasa meninggalkan istana, Kunti hendak mencoba mantra itu dan mendatangkan Hyang Surya memberkahinya jadi bunting. Dan ia pun menjadi bunting. Kunti merasa malu karena bunting tanpa suami. Oleh karenanya ia memohon agar kelahiran bayinya tidak lahir melalui jalan biasa. Terkabullah keinginan Kunti karena bayi tersebut lahir dari telinga, sehinga dinamakan Karna, yang artinya telinga.

Sejak lahir Karna sudah memakai anting-anting dan baju kotang, sehingga ia amat sakti dan kebal. Baru saja lahir, Karna dimasukkan dalam peti dan dibuang ke sungai Aswanadi, kemudian hanyut sampai di tanah Angga. Di sana ia ditemukan oleh seorang kusir kereta bernama Adirata dan dianggap sebagai anak sendiri.

[+/-] Selengkapnya...

Seri IV : Kemelut Keturunan Darah Kuru (Lahirnya Drestaratya dan Pandu)

Almarhum Raja Santanu yang menikahi Durgandini dan menghasilkan 2 putera yaitu Tjitragada dan Witjitawirja. Kedua putera tersebut ternyata tidak dapat membuahkan keturunan dari hasil perkawinannya dengan Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Dewi Sajodjanagandi alias Durgandini dan disebut juga dengan Dewi Gandawati amat berduka cita memikirkan darah Kuru akan terputus.

Suatu hari Dewi Gandawati memanggil Bisma untuk mencari akal supaya darah Kuru tidak terputus. Akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil begawan Wyasa (putra Gandawati dari Resi Parasara) untuk mengadakan keturunan.

Suatu hari Dewi Gandawati mengheningkan cipta untuk memanggil begawan Wyasa. Setelah begawan itu datang, sang Dewi segera menceritakan maksudnya. Begawan Wyasa berjanji akan memenuhi permintaan ibunya tetapi terlebih dahulu ia meminta waktu 1 tahun untuk bertapa agar kelak dapat memiliki putra yang betul-betul utama.

Setelah itu Wyasa pulang ke pertapaannya di gunung Retawu. Dewi Ambika dan Ambalika yang mendengar berita tentang hasil dari pertemuan itu, yaitu bahwa mereka akan dibuahi Wyasa, menjadi sangat sedih. Tapi mereka benar-benar tak berani menyangkal.

Setelah satu tahun berlalu, datanglah begawan Wyasa untuk memenuhi janji. Pertama-tama ia menghendaki turunan dengan Dewi Ambika. Ketika akan bertukar asmara dengan Begawan Wyasa, Ambika merasa takut karena paras wajah yang buruk dari Begawan Wyasa. Karenanya Dewi Ambika melakukannya sambil memejamkan mata. Kejelekan muka Wyasa sebenarnya disebabkan karena telah lamanya ia bertapa.

Setelah Dewi Ambika hamil, dan sampai waktunya melahirkan ternyata anak itu buta. Lalu anak itu diberi nama Drestaratya (Destarata).

Kemudian sang Begawan menghendaki turunan dari Dewi Ambalika. Ketika bertukar asmara dengan Dewi Ambalika, muka sang Dewi pucat karena takut. Ketika ia mempunyai putera, putera itu dinamakan Pandu.

Dewi Gandawati menyuruh Dewi Ambalika untuk sekali lagi bertukar asmara dengan Begawan Wyasa. Dewi Ambalika takut menolak titah. Tapi ia mendapat akal, yaitu dengan menyuruh pelayannya yang bernama Datri untuk menggantikannya. Pelayan tersebut diberi pakaian dan dirias hingga benar-benar mirip Dewi Ambalika. Dengan demikian Wyasa telah bertukar asmara dengan pelayan Dewi Ambalika. Akhirnya Datri memiliki putra yang pincang dan diberi nama Widura.

Sekarang cita-cita Dewi Gandawati telah tercapai. Turunan Kuru tidak terputus. Begawan Wyasa tetap di pertapaannya dan ia berpesan kalau keturunannya mendapat kesusahan, ia akan segera datang memberi nasehat.

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, 21 April 2010

Seri III : Pertemuan Santanu dengan Durgandini dan Sayembara Raja Kasindra

Suatu hari, Raja Santanu sedang berjalan di tepi sungai Djamuna. Secara tak sengaja, Baginda melihat Durgandini yang sangat cantik jelita. Hati Baginda sangat tertarik melihatnya. Dan Baginda pun mulai mencari-cari keterangan tentang Durgandini. Setelah itu, Baginda menyuruh Dasabala untuk meminangkan Durgandini. Pinangan tersebut diterima oleh Durgandini dengan syarat bahwa apabila puteranya lahir, hendaklah dapat menggantikannya menjadi raja.

Baginda yang mendengar permohonan itu menjadi berat hati untuk mengabulkannya karena ia telah memiliki putra, yaitu Bisma. Dengan hati kecewa, Baginda kembali ke istana dengan bersedih hati.

Bisma yang mendengar sang ayahnda bermuram durja segera pergi menemui Dasabala dan mengatakan bahwa ia tidak suka menjadi raja. Ia ingin menjadi Brahmanatjari, yaitu brahmana yang tak suka kepada perempuan. Dan ia juga mengutarakan kepada Dasabala bahwa akan mendesak ayahndanya supaya mengabulkan persyaratan dari Durgandani tersebut.

Karena pengorbanan Bisma, maka dibawalah Durgandini ke istana oleh Dasabala untuk dipersembahkan kepada Raja Santanu. Oleh karena tindakan Bisma tersebut, Baginda menjadi sangat terharu dan bersabda : "... Hai putraku yang sangat kusayangi, engkau telah benar-benar mengorbankan kepentingan sendiri untuk ayahmu. Engkau sungguh-cinta kepada orang tuamu. Oleh karenanya, saya mohonkan kepada Dewa, supaya kamu tak mati semasa masih menghendaki hidup".

Seketika itu terdengar bunyi menggelegar di udara, tanda permohonan Baginda terkabul.

Akhirnya Raja Santanu menikah dengan Durgandini dan memiliki dua orang putera, yaitu Tjitragada dan Witjitawirja.

Ketika kedua putera tersebut beranjak dewasa, alkisah Prabu Kasindra mengadakan sayembara untuk mencarikan jodoh putri-putrinya. Prabu Kasindra memiliki 3 orang putri dan 2 orang putra, yaitu Dewi Amba, Dewi Ambika, Dewi Ambalika, Wahmuka dan Harimuka. Wahmuka dan Harimuka berwujud rasaksa.

Dalam sayembara tersebut dikatakan bahwa barangsiapa dapat mengalahkan Wahmuka dan Harimuka, maka akan menjadi jodoh ketiga dewi tersebut. Banyak raja dan ksatria yang mengikuti sayembara. Bisma pun juga ikut, namun untuk Tjitragada dan Witjitawirja. Akhirnya pun Bisma memenangkan sayembara dan ketiga putri dibawa ke Hastinapura.

Setelah sampai di Hastinapura Durgandini menitahkan supaya Dewi Ambika dijadikan istri Tjitragada dan Dewi Ambalika menjadi istri Witjirawirja. Dewi Amba akan diberikan kepada salah satu dari kedua putra itu. Tapi Dewi Amba menolak. Ia akan ikut Bisma, karena dialah pemenang sayembara. Bisma menjawab ia takkan beristri, dan akan meneruskan menjadi Brahmanatjari.

Suatu hari Bisma pergi ke pertapaan begawan Rama Parasu. Dewi Amba turut, tak mau ditinggalkan. Setelah Bisma beberapa lama di pertapaan, lalu pulang ke Hastinapura. Dewi Amba juga turut. Karena tak diperbolehkan turut Bisma, ia mengikuti dari jauh. Setelah Bisma agak jauh, Dewi Amba ketahuan dan disuruh kembali ke pertapaan. Dewi Amba menolak. Bisma lalu menakut-nakutinya dengan mengarahkan panah ke Dewi Amba, namun secara tak sengaja malah panah tersebut terlepas dari busurnya dan terkena dada Dewi Amba.

Dewi Amba sekarat dan Bisma pun bersedih di sisinya. Lalu terdengar suara Dewi dan berkata lirih, "Hai Bisma, engkau membunuh orang yang tak berdosa yang cinta kepadamu. Cintaku benar-benar keluar dari hati yang suci. Walau kamu tak suka beristri, kamu dapat mengijinkan aku menjadi saudara atau pengiringmu. Tapi cinta suciku kau balas dengan pembunuhan. Karena itu aku ingatkan engkau, kelak aku akan menjelma menjadi puteri maharaja Drupada yang bernama Sikandi (Srikandi). Jika pech perang besar antara darah Barata, di situlah aku akan membalas".

Setelah berkata demikian, Dewi Amba menghembuskan nafas penghabisan.

[+/-] Selengkapnya...

Seri II : Riwayat Durgandini

Alkisah seorang raja bernama Basuparitjara suatu hari pergi berburu. Tiba-tiba, teringatlah baginda kepada permaisuri dewi Girika yang sangat cantik hingga timbul birahinya. Karena sangat birahi, Baginda mengeluarkan air mani dan ditangkapnya pada daun lalu dibuang ke sungai Djamuna.

Pada saat itu, lewatlah seekor ikan yang sebenarnya adalah seorang bidadari yang sedang menjalani hukuman. Ikan tersebut menelan air mani Baginda hingga akhirnya hamil.

Suatu hari Dasabala, abdi Baginda yang menjadi nelayan dan tukang perahu di kali Djamuna, mendapati ikan yang hamil tersebut. Akhirnya ikan tersebut melahirkan seorang laki-laki dan perempuan, lalu ikan tersebut menghilang.

Karena kejadian ajaib tersebut, Dasabala lalu menghadap Baginda dan mempersembahkan bayi tersebut sambil menceritakan asal mulanya. Baginda lalu teringat kejadian pada saat berburu dan Baginda yakin bahwa kedua bayi itu adalah putera-puterinya. Yang laku lalu diberi nama Matsyapati, dan yang perempuan diberi nama Durgandini.

Durgandini memiliki penyakit yang aneh, yaitu seluruh tubuhnya berbau amis. Oleh karenanya, dia diasuh oleh Dasabala. Penyakit ini akhirnya disembuhkan oleh seorang Resi yang bernama Parasara. Tidak saja penyakitnya sembuh, bahkan bau badannya pun selalu menebarkan aroma wangi. Karena itu Durgandini diberi nama Sajodjanagandi. Dan karena sabda resi Parasara pulalah, perahui yang biasa digunakan Durgandini berubah menjadi sebuah pulau di Sungai Djamuna.

Resi Parasara tinggal di pulau tersebut selama beberapa bersama Sajodjanagandi hingga mendapatkan seorang putera. Putera tersebut lalu diberi nama Kresna Dwipajana Wyasa (yang menurut hikayat menjadi pengarang Kitab Wreda dan Mahabarata).Setelah memiliki putera, Parasara meninggalkan pulau itu. Tetapi Sajodjanagandi menetap di situ bersama puteranya. Setelah Wyasa besar, ia pergi bertapa. Ia berpesan, jika ibunya rindu akan dia, hendaklah mengheningkan cipta, ia tentu akan segera datang.

Demikianlah riwayat Durgandini (Sajodjanagandi).

[+/-] Selengkapnya...

Tuesday, 20 April 2010

Seri I : Kisah Santanu dan Kelahiran Bisma

Perjamuan di Sorgaloka

Ketika di Sorgaloka diadakan perjamuan bersar-besaran, raja Mahabisa yang dapat naik ke Sorgaloka karena sesajinya juga datang berkunjung. Dewi Gangga pun ikut hadir dalam perjamuan tersebut.

Selagi pesta, tiba-tiba angin besar bertiup menyingkapkan pakaian Dewi Gangga. Para hadirin tertunduk supaya Dewi Gangga tidak malu. Namun, tidak demikian dengan raja Mahabisa. Hyang Brahma sangat murka melihat kelakuan raja Mahabisa, lalu menghukumnya turun ke dunia. Demikian pula Dewi Gangga. Tapi dijanjikan kepadanya bahwa ia akan lepas dari hukuman jika telah melepaskan amarahnya.

Turunnya raja Mahabisa ke dunia ialah dengan menjelma menjadi putera raja Pratipa.


Dewi Gangga Menemui Raja Pratipa

Suatu hari Raja Pratipa pulang dari bertapa. Tiba-tiba datanglah putri yang amat cantik menghadap baginda. Putri itu memohon agar Baginda sudi memperistri dia.

Baginda tidak dapat mengabulkan permohonan tersebut, tapi berjanji bila kelak punya putra sang puteri akan diambil sebagai menantu. Puteri itu berterima kasih dan memohon jika kelak menjadi menantunya janganlah dicegah segala perbuatannya sekalipun yang sangat buruk. Jika putera raja mencegah, maka dengan terpaksa puteri akan meninggalkannya.

Baginda berjanji akan memenuhi permohonan itu. Setelah itu sang puteri menghilang dari pandangan. Siapakah puteri itu ? Ia Dewi Gangga, yang dihukum oleh Hyang Brahma turun ke dunia.

Setelah raja Pratipa bertemu dengan dewi itu, maka Baginda bertapa untuk memohon seorang putra kepada Dewa.

Singkat cerita, permohonan Baginda dikabulkan. Tak lama Baginda memperoleh seorang putra dan diberi nama Santanu.

Setelah Santanu dewasa, bersabdalah Baginda Pratipta kepada Santanu bahwa kelak akan datang seorang bidadari. Ialah yang akan dijadikan istri putra raja. Baginda menyampaikan permohonan Dewi Gangga kepada Santanu. Santanu menerima segala titah dan kemudian dinobatkan menjadi raja.

Santanu menerima segala titah, kemudian ia dinobatkan menjadi Raja. Setelah beberapa lama menjadi Raja, suatu hari Santanu berada di tepi sungai Gangga. Tiba-tiba muncul seorang putri yang cantik jelita. Karena terpesona, Raja Santanu lalu menghampiri dan ngobrol dengan putri tersebut. Setelah sekian lama, Raja Santanu menanyakan apakah putri tersebut mau jadi permaisuri. Sang putri bersedia dan mengajukan persyaratan. Raja Santanu yang mendengar persyaratan itu terdiam dan teringat apa yang telah diwasiatkan oleh ayahnda Raja Pratipta kepadanya. Raja Santanu mengabulkan persyaratan yang diajukan oleh Sang Putri tersebut.

Raja Santanu Ditinggalkan Dewi Gangga, Istrinya, dan Kelahiran Bisma
Setelah menikah dengan Sang Putri, yang ialah Dewi Gangga, Raja Santanu memiliki putra-putra yang dilahirkan oleh Dewi Gangga. Namun, walau sudah 7 putra yang lahir, 7 putra itu pula yang telah dibunuh Dewi Gangga dan dibuang ke sungai. Raja Santanu hanya berdiam diri melihat apa yang dilakukan oleh Dewi Gangga karena mengingat sumpah yang telah diucapkannya sebagai syarat pernikahan dengan Dewi Gangga.

Hingga pada suatu ketika putra ke 8 lahir dan Dewi Gangga hendak membunuhnya pula, Raja Santanu mulai mempertanyakan alasan Dewi Gangga membunuh keturunannya. Maka bersabdalah Raja Santanu dengan hati berdebar-debar : "Adinda, katakanlah siapakah engkau sebenarnya ? Dan mengapa engkau sampai hati membunuh putra-putra kita ? Kamu tentu berdosa besar kepada Dewa. "

Permaisuri yang tidak lain Dewi Gangga menjawab, "Kakanda, janganlah takut. Putera kakanda ini tidak akan hamba bunuh. Tapi kenapa kakanda menanyakan hal ini ? Lupakah kakanda akan syarat perkawinan kita ? Dengan demikian, maka terpaksa hamba akan meninggalkan kakanda. Tapi sebelum itu, maka hamba akan bercerita mengapa hamba telah membunuh putera-putera sendiri. Ceritanya begini :

Pada jaman dahulu, ada delapan orang wasu (golongan dewa) yang telah mencuri sapi kehormatan yang bernama Nandini, milik seorang Maharesi. Di antara mereka hanya satu orang, yaitu yang bernama Dyahu. Maharesi tersebut mengetahui perbuatan mereka dan berkata, "Hai para wasu, aku mohonkan kepada Dewa moga-moga kamu menjelma menjadi bayi manusia!"

Mendengar itu mereka mohon ampun dan berjanji takkan mengulangi perbuatannya lagi. Sehingga oleh Dewa, mereka akan menjelma menjadi bayi manusia dan akan terbebas dari hukuman pada saat kelahirannya, kecuali Dyahu yang harus tinggal agak lama di dunia. Ke delapan wasu ini meminta kepada hamba untuk melahirkan mereka ke dunia jika hamba telah menjadi puteri manusia. Oleh karena itu hamba membunuh 7 putera hamba dengan membuangnya ke sungai yang merupakan penjelmaan dari 7 wasu yang memiliki dosa kecil, dan wasu yang terakhir Dyahu harus tinggal lebih lama lagi di dunia". Demikian cerita Dewi Gangga kepada Raja Santanu.

"... ya kakanda, hamba adalah Dewi Gangga, puteri Batara Janu", jelas Dewi Gangga.

Setelah menceritakan segala sesuatunya, Dewi pulang ke kahyangan karena hukumannya juga telah usai. Bayi itu pun dibawa serta. Namun setelah bayi tersebut dewasa, diserahkan kembali kepada Raja Santanu dan diberi nama Bisma atau Dewabrata.

Sejak kecil Bisma telah terlihat memiliki dasar watak pemberani, adil, pandai hukum, dan pandai pula menggunakan senjata perang.


[+/-] Selengkapnya...